
Oleh. Tgk. Asriadi Rusli ( kandidat doktoral UIN SUKA/ Alumni Dayah mudi mesra)
Zaman modern ini, kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dalam menentukan pemimpin. Kriteria seperti kompetensi, pengalaman, dan popularitas seringkali menjadi pertimbangan utama. Namun, di tengah kompleksitas permasalahan yang kita hadapi saat ini, ada satu aspek yang seringkali terlupakan, yakni moralitas dan nilai-nilai agama.
Banyak yang berpendapat bahwa kepemimpinan berbasis agama sudah tidak relevan lagi di era globalisasi. Anggapan ini keliru. Justru pada saat seperti inilah, kita membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya cerdas dan cakap, tetapi juga memiliki integritas dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai luhur. Dalam konteks keAcehan, sebagai salah satu propinsi yang menerapkan syariat Islam ulama solusi terbaik dalam memimpin Nanggroe ini. Ulama, sebagai pemegang ilmu agama, memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin yang ideal.
Ketika ulama memutuskan untuk terjun ke dunia politik, mereka tidak semata-mata mengejar jabatan atau kekuasaan. Motivasi utama mereka adalah memperbaiki keadaan umat dan bangsa. Mereka ingin membawa perubahan positif yang berdampak jangka panjang, tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk generasi mendatang.
Selama ini, kita telah menyaksikan berbagai persoalan kompleks yang melanda bangsa kita. Korupsi, ketidakadilan, dan kerusakan moral menjadi masalah yang semakin mengakar. Kita membutuhkan pemimpin yang berani mengambil tindakan tegas untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Ulama, dengan bekal ilmu agama yang mendalam, memiliki pemahaman yang komprehensif tentang akar permasalahan yang kita hadapi. Mereka mampu menawarkan solusi yang tidak hanya bersifat pragmatis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Ulama juga memiliki karakter yang kuat, seperti sabar, jujur dan amanah. Nilai-nilai seperti ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Ulama juga bisa menawarkan solusi yang bersifat permanen dan memiliki visi misi yang jelas untuk masa depan Aceh Kedepan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita memberikan kepercayaan kepada ulama untuk memimpin bangsa. Kehadiran mereka di kancah politik akan membawa angin segar dan harapan baru. Dengan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai agama, kita dapat membangun negara yang adil, makmur, dan bermartabat.
pemimpin dalam Islam mempunyai beberapa ciri-ciri, diantaranya:
Niat yang ikhlas.
Laki-laki.
Tidak meminta jabatan.
Berpegang dan konsisten pada hukum Allah.
Memutuskan perkara dengan adil.
Senantiasa ada ketika diperlukan.
Menasehati rakyat.
Selanjutnya Siddiq, Aamanah. Tabligh, Fathanah itu lah ciri ciri pemimpin yang baik.
Ketika kita memilih seorang pemimpin. Kita di tuntut untuk bertanggung jawab. Kalau kita memilih pemimpin yang istiqamah dan mulia serta membawa perubahan bagi ummat. Niscaya kita akan mendapatkan ‘hadiah” pahala jariyah karena berkonstribusi untuk kebaikan.( Ilmu/ amal perbuatannya yantafau’u bih)
Namun Kalau kita memilih pemimpin yang korupsi. Penipu. Pasek / jahe Basith tampa ilmu agama yang glah fardhu ain . Perbuatan Mareka juga berimbas pada kita. Karena kita mendukung maksiat/ ketidak Adilan/ pemimpin yang zalem ujung kita akan diminta pertanggungjawaban alias akan ada DAUSA jariyah akibat konstribusi kita memilihnya sehingga pemimpin tersebut berbuat tidak adil dan zalim.