
“Habis Manis Sepah Dibuang”: Nasib Tragis Ida Acoi di Partai Perjuangan Aceh (PPA)
Habis manis sepah dibuang — pepatah lama itu tampaknya sangat tepat menggambarkan nasib Suhaida M. Yacob, atau yang lebih dikenal dengan nama Ida Acoi, di tubuh Partai Perjuangan Aceh (PPA).
Perempuan tangguh ini menjadi salah satu motor penggerak utama lahirnya PPA, partai yang ia bangun dengan segala pengorbanan waktu, tenaga, dan uang. Namun ironis, setelah semua perjuangan itu, ia justru dipecat tanpa penjelasan yang jelas.
Pemecatan Ida dilakukan hanya lewat selembar surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP PPA. Ia diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua DPD PPA Kota Langsa, tanpa klarifikasi, diskusi, atau proses yang transparan.
*Perjalanan Panjang Membesarkan PPA*
Sejak awal, Ida Acoi sudah terlibat dalam wacana pembentukan PPA. Ia menjelajahi 23 kabupaten/kota di Aceh untuk membentuk struktur kepengurusan. Ia juga turut mengurus semua proses administratif hingga keluarnya Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kesbangpol, serta mendampingi verifikasi faktual dari 13 dari 14 kabupaten/kota sebagai syarat terbitnya SK Kemenkumham.
Ida tidak hanya mengorbankan tenaga dan waktu, tapi juga dana pribadi. Demi operasional partai, ia rela mengambil sebagian besar keuntungan dari usahanya sendiri.
“Saya keliling Aceh dengan uang pribadi. DPP hanya membantu sekitar Rp50 juta, yang hanya cukup untuk biaya minyak mobil, penginapan, dan makanan ringan. Sisanya? Saya tanggung sendiri. Kalau ditotal, mungkin lebih dari Rp200 juta sudah saya keluarkan,” ujar Ida dengan nada getir.
*Keyakinan dan Harapan yang Kini Sirna*
Ida Acoi pernah yakin, PPA akan menjadi partai besar yang mampu merebut hati masyarakat Aceh, khususnya kaum perempuan. Dengan latar belakang politik yang sudah ditempa pengalaman, Ida percaya partai ini — yang digagas oleh kolaborasi akademisi, birokrat, dan politisi — mampu membawa perubahan nyata bagi Aceh.
Namun semua itu kini tinggal kenangan. “Ibarat bunga, belum sempat mekar tapi sudah dipangkas dari akar. Bukan hanya bunga yang layu, tapi pohonnya pun mati,” katanya penuh kesedihan.
*Badai Pemecatan dan Mundurnya Para Kader*
Ida tak sendiri. Sejumlah ketua dan pengurus PPA daerah lainnya juga mengalami nasib serupa — dipecat atau memilih mengundurkan diri. Daerah-daerah yang terdampak termasuk Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Pidie, Aceh Tamiang, dan Langsa. Ida mengaku mendapatkan informasi bahwa akan ada daerah-daerah lain yang menyusul mundur.
Tragisnya, pemecatan ini menimpa kader-kader yang justru berjasa besar dalam membangun fondasi partai. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah publik: Jika yang telah berjasa bisa dibuang begitu saja, bagaimana nasib kader yang baru bergabung?
*Partai Perempuan, Tapi Minim Kebijaksanaan?*
Pemecatan Ida terasa semakin pahit karena Ketua Umum PPA, Prof. Dr. (Adjunct) Marniati, S.E., M.Kes, adalah sosok perempuan bergelar profesor yang diharapkan membawa semangat kepemimpinan yang bijaksana dan inspiratif. Sayangnya, harapan itu tidak tercermin dalam tindakan.
“Seharusnya partai ini menjadi contoh bagi partai lain. Mengedepankan kedewasaan dan kebijaksanaan dalam berpolitik. Bukan malah membuang orang yang telah berkorban seperti kami,” keluh Ida.
*Pengkhianatan dalam Dunia Persilatan*
Dulu, Ida Acoi dikenal gigih mengampanyekan PPA ke seluruh penjuru Aceh. Tak ada hari tanpa bicara soal perubahan. Dari forum resmi hingga diskusi warung kopi, Ida terus menyuarakan harapan untuk Aceh yang lebih baik lewat PPA.
Kini semua itu telah sirna. Harapan telah menjadi luka, semangat telah berubah menjadi kekecewaan. Tenaga, pikiran, dan dana yang telah tercurah kini hanya menjadi kenangan dan catatan kelam tentang pengkhianatan dalam dunia persilatan politik.